Follow Us

0251 8425416
WA +6281310902681

ptdafa@gmail.com

Senin - Sabtu 8.00 - 16.00
Minggu - Hari libur tutup

Kentang

Kentang merupakan bahan pangan dunia setelah padi, gandum dan jagung. Kentang di Indonesia juga sudah populer sebagai bahan pangan. Bagi kalangan petani di dataran tinggi, sudah sejak lama kentang menjadi tanaman primadona yang dibudidayakan, karena harganya yang cukup baik, relatif stabil, dan pemasarannya yang luas. Pasarnya tidak hanya untuk konsumsi langsung masyarakat, tetapi saat ini juga diserap oleh industri pangan dalam jumlah yang cukup besar.

Budidaya kentang di Indonesia sebagian besar masih menggunakan benih yang berasal dari sisa kentang konsumsi. Biasanya sisa hasil panen yang berukuran kecil tidak dijual, tetapi dibenihkan sendiri oleh petani. Dari kondisi benih seperti itu sulit untuk menghasilkan produktivitas kentang yang tinggi dan bermutu.

Data menunjukkan bahwa potensi pengembangan cukup luas, yaitu sekitar 70.000 hektar/tahun, dan kebutuhan benih kentang bermutu (G4) di Indonesia rata-rata 80.000 ton.  Dari kebutuhan bibit tersebut, hanya 0.9 % yang dapat dipenuhi dari benih impor dan hanya 1 % saja yang sudah dipenuhi dari hasil penangkaran di dalam negeri. Dengan demikian masih terbuka pasar untuk memenuhi kebutuhan 98,1 % dari luas tanam nasional.

Produksi benih kentang bermutu varietas unggul yang tepat jenis, varietas, mutu, jumlah, tempat, waktu dan harga  dimulai dari produksi plantlet kentang dengan teknik kultur jaringan, yang dilakukan di laboratorium kultur jaringan. Selanjutnya plantlet diaklimatisasi dalam media steril dan dalam ruang bebas serangga untuk menghasilkan umbi mikro (G0). Kemudian benih Go ditanam menghasilkan benih G1, demikian seterusnya G1 menghasilkan G2, G3 dan G4. Benih generasi keempat (G4) inilah yang merupakan benih sebar yang digunakan oleh petani. Seluruh kegiatan produksi G0 hingga G4 dilakukan oleh penangkar benih.

Masih rendahnya penyediaan benih kentang bermutu hasil kultur jaringan, antara lain disebabkan oleh tingginya kebutuhan investasi bagi penangkar dan sangat lamanya waktu siklus usaha penangkar. Dapat digambarkan bahwa sejak aklimatisasi plantlet hingga menghasilkan benih sebar G4, dibutuhkan waktu sekitar 2 tahun. Dengan kondisi tersebut sangat sedikit petani atau pengusaha yang mampu menjadi penangkar benih kentang bermutu di Indonesia, kendati pasarnya masih sangat luas.